be a good friend or best friend…

30 11 2009

Suatu kali, kemarin, tepatnya saat kami sama2 sedang menjahit, tiba2 samita mengatakan hal ini :

” tau nggak tikoo, ada satu hal lagi yang kupelajari dari hidup ini..yang tak ku dapatkan di teori manapun”

” apa?” kataku..

” tentang persahabatan” ujarnya sambil terus menjahit pinggiran kasurnya yang bolong..

sedangkan aku, sambil menjahit celana panjangku yang bolong, tiba2 terhenyak dan mengamati perkataannya…

” kenapa memangnya?” kataku penasaran…

” sebaiknya..” katanya terbata-bata

“…kita tidak mengatakan ‘you are my best friend’ pada sahabat kita..” lanjutnya,..

” oh ya?” tanyaku…”kenapa emang?”

” nanti Allah cemburu..” ujarnya, sambil menjahit pinggiran kasur yang bolong satunya lagi..

“Iya, makanya mita suka mengatakan ’sahabat yang baik’ bukan ‘kamu adalah sahabat terbaik…”lanjutnya lagi…

” oo gitu ya?” tanyaku yang sebenarnya masih penasaran dengan hal itu…tapi aku pura-pura mengalihkan perhatianku pada jahitan celana panjangku dan membiarkannya untuk meneruskan ceritanya…karna, kalau aku fokus pada ceritanya, takutnya dia akan menarik kembali perkataannya…

” karena, bila kita mengatakan pada sahabat kita bahwa mereka adalah sahabat yang baik, maka secara tak langsung kita akan berbuat baik pada mereka tanpa kita sadari…sedangkan bila kita mengatakan bahwa dia adalah sahabat terbaik kita, maka secara tidak langsung dan tanpa kita sadari, kita pun akan menuntut lebih pada mereka…misalkan, ketika perilaku mereka tidak sesuai dengan yang kita harapkan, maka kita akan kecewa..dan itu pasti..karena kita menuntut lebih akan peran mereka sebagaimana kita menganggapnya bahwa dia adalah lebih atas diri kita…”

gugusan bintang yang itu berjumlah tujuh...

” hmm..iya juga ya..” ujarku..”pantesan, ketika aku menganggap best friend pada sahabat-sahabatku yang dahulu (meskipun kini aku masih menganggapnya sahabat) tapi aku tidak merasakan sensasi persahabatan seperti dulu saat kami bersahabat…

Memang, setelah kurenungi dengan kata2 ‘tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah’ ternyata berlaku juga dengan kata2 bahwa upaya mencintai sahabat itu lebih mulia dibandingkan dengan dicintai sahabat’ karena dengan begitu , maka akan ada upaya memberi terus menerus tanpa ada harapan menerima perhatian…





Kupikir menjaga itu jauh lebih penting…

25 11 2009

Beberapa hari ini aku memang dibuat kesal dengan keberantakan yang ada di setiap sudut asrama. Sehingga yang ada hanyalah upaya memikirkan bagaimana agar setiap individu di dalamnya memiliki kesadaran diri akan kebersihan asrama ini. Sebenarnya bukan karena mereka tidak mau beres-beres. Aku yakin setiap seminggu sekali pasti mereka selalu berupaya untuk membersihkan barang-barang, meskipun ku yakin, banyak di antara barang-barang yang mereka bereskan itu bukan barang2 milik mereka sendiri..cuci piring lah, nyapu2 lah, ngeberesin gelas-gelas yang berserakan lah…Tapi yang aku tak habis pikir adalah kenapa setiap hari selalu ada gelas2 atau piring yang berserakan hingga melebihi waktu selama 2×24 jam…ini bukanlah kebiasaan yang baik. Kenapa yaa…setiap diri hanya bisa menyalahkan yang lain tanpa berusaha untuk memperbaiki individunya sendiri…
Sampai2 aku berfikir bahwa buat apa jadwal piket itu dibuat, kalau masing-masing kita tak menjaga kebersihan diri sendiri dan lingkungannya
Menjaga. Selalu lebih penting daripada melakukan sesuatu perubahan tapi melalaikan upaya penjagaan.
Sesuatu yang kita yakini ke’berhargaannya’ mungkin secara tak langsung akan membuat kita berupaya untuk menjaga keberadaannya.
Biasanya itu baru kita sadari setelah keberadaannya tak nampak lagi di depan kita…
Tapi, kita baru menyadari keberhargaanya justru malah di saat sesuatu itu sudah tak lagi ada di dekat kita…
Seperti misalnya gini, kita baru merasakan begitu berharganya air tatkala air itu sudah tak lagi mengaliri kehidupan kita….Ketika air ada, kita menyia-nyiakannya bahkan membuang-buangnya…Atau kita baru merasakan begitu berharganya sahabat yang ternyata senantiasa memperhatikan kita tanpa kita sadari keberadaannya dan kita pun acuh terhadapnya. Begitu ia tak ada di dekat kita baru kita merasakan ada seuatu yang begitu berbeda yang mempengaruhi kehidupan kita….
Alangkah bodohnya…
Bila setiap kita mengingkari setiap nikmat yang telah diberikanNya…
Sehingga tanpa kita sadari kita melalaikannya bahkan untuk menjaganya pun tak bisa…
Sungguh, segala sesuatu itu begitu bermakna bila kita memandangnya dari sudut yang berbeda…
Kupikir, menjaga itu salah satu bentuk/upaya bagaimana kita bersyukur akan nikmat-nikmat yang telah diberikanNya…
Aku masih punya ibu, aku harus menjaganya
Aku punya kakak dan aku harus mengingatkannya
Aku memiliki sahabat dan aku harus selalu mendoakannya
Aku memiliki Allah di mana rasa syukur padaNya itu harus selalu kurasakan di manapun aku berada…
Jagalah Allah selalu, maka Allah pun akan menjagamu di setiap waktu…





Bersihnya Asramaku? Oya?

23 11 2009

Aku tak mengerti dengan semua ‘keberantakan’ ini. Tahukah kau apa yang kumaksud ‘keberantakan’? Asramaku suka berantakan…berantakan dengan barang orang-orang…Aku sedih, kenapa bisa begini?Apa gara-gara garong(kucing terluka, red) suka main ke tempat kami? Ah, kurasa tidak juga…kalo dia main, otomatis langsung kuusir..Ingin rasanya aku menuliskan beberapa warning di setiap sudut asrama kami. Tapi, aku tahu itu tak akan membuahkan hasil..Seperti yang telah Samita katakan padaku bahwa : kalau mau memberi peringatan, kasih aspek2 positif tikoo, soalnya orang2 tu cenderung malas melihat kata ‘jangan’ atau ‘tidak’ atau pokoknya jangan sampai ada kata ‘tidak’ dalam peringatan itu..kasih aja kata2 : Alhamdulillah, pojokan ini bersih sekali…atau Malaikat senang sekali duduk di sudut ini…’ Dan kurasa kata2 ini memang cukup efektif untuk menyindir kebersihan yang ada di ruangan-ruangan atau sudut2 asrama…
Dan satu hal yang masih membuatku kesal dengan kebersihan yang ada di Asrama kami. Kenapa orang2 tu pada males cuci piring? Aku heran…apakah karena mereka semua merasa bahwa itu bukanlah gelas2 atau piring2 mereka sehingga mereka tak ada rasa tanggung jawab untuk membersihkannya lagi setelah mereka pakai?Ah tentu saja itu bukan alasan. Siapa berani berbuat, dia harus pandai bertanggung jawab. Begitu kan pendidikan moral yang diajarkan kepada kita sejak kecil?

Aku tak mengerti, sebenarnya dalam diri mereka masing2 punya inisiatif untuk beres2. bersih2. aku percaya itu. tapi kenapa? kenapa masih saja ada tangan2 tak bertanggung jawab yang mengotori sebagian besar sudut asrama kami?…Allah, maafkan kami.

Aku dan Samita telah merancang berbagai strategi untuk membuat asrama kami tetap bersih. Tapi, apalah arti semua itu bila tak diiringi dengan keinginan untuk menjaga kebersihan dari masing-masing orang? Bolehlah kita membuat jadwal piket..tapi apalah arti jadwal piket itu bila semua sama-sama tak menjaga kebersihan itu sendiri. Dan bagiku, menjaga itu jauh lebih penting daripada membersihkan semua kotoran-kotoran yang ada…kalau emang ga sanggup untuk membersihkan, maka jagalah…

 

 

 





cermin ajaib

20 11 2009





ada apa dengan nama saya?

16 11 2009

Kartika itu bahasa Sansekerta (menurut kamus besar Indonesia) dan berarti nama bintang, yang bahasa Indonesianya bintang tujuh. Mengapa kartika dalam bahasa Indonesia Bintang Tujuh? Karena itu nama gugusan bintang yang jumlahnya tujuh. Yang keliru jawaban saya tadi pagi (mungkin menimbulkan salah tafsir), yang saya jadikan contoh Bintang Tujuh (yang jumnlahnya tujuh) adalah yang dalam bahasa Jawa disebut lintang waluku. Terus terang, nama (gugusan) bintang yang bahasa Jawa saya ragu bahasa Indonesianya. Ada lintang waluku, jaka belek, panjer sore, gubuk penceng, prau. Dalam bahasa Indonesia ada kartika, bintang tujuh, kejora, bintang timur Kalau kartika namanya juga bintang tujuh, merupakan gugusan bintang yang jumlahnya tujuh, maka dalam bahasa Jawa gugusan bintang yang jumlahnya tujuh bukan lintang waluku yang saya jawabkan tadi pagi. Gugusan bintang yang jumlahnya tujuh, pada bahasa Jawa adalah lintang gubuk penceng. Bentuknya gugusan kecil 5 seperti layang-layang atau dangau di tengah sawah yang reyot, agak jauh dari gugusan 5 itu ada bintang bersinar terang 2 buah (jadi jumlahnya 7). Terbitnya di langit sebelah selatan. Juga bisa digunakan petunjuk arah selatan-utara. Jadi sebenarnya orang Jawa sejak dulu sudah menggunakan ilmu perbintangan sebagai tuntunan hidup. Entahlah bangsa Jawa sekarang mengakui atau tidak bahwa nenek-moyangnya sejak dulu menguasai juga ilmu perbintangan (tidak bodoh). Karena generasi muda Jawa sekarang sudah jarang sekali melihat bintang di langit waktu malam, jadi perbintangan Jawa sudah tidak ditengoknya lagi. Itu yang perlu saya betulkan dari jawaban saya tadi pagi.
saya dapatkan dari web : http://supartobrata.blogspot.com/2009/06/email-dari-ribka-wardhani.html





di atas kertas

13 11 2009

PhotoFunia-1b71688





efek merokok

12 11 2009

Mungkin, kalau kuceritakan bahaya merokok, semuanya udah pada tahu, bahkan perokok pun sebenarnya lebih jago untuk menjelaskan bahaya merokok karena saking rajinnya juga mereka baca tulisan : “merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, hipotensi, dan gangguan kehamilan dan janin”. Tapi, di sini aku tak menceritakan soal bahaya merokok ataupun lain sebagainya karena kupikir, dari segi kesehatan, sudah banyak yang membahas soal itu.

Jadi gini, sedikit cerita, soal hari minggu pagi kemarin, di saat aku bersepeda menuju tempat latihan thifan. Di tengah jalan, kudapati salah seorang kawanku (yang saat ini menjabat sebagai ketua BEM di fakultas kami) asyik merokok. Setengah ga percaya, tapi setelah kusapa dan ternyata memang benar dia. Bukannya apa-apa, saat kusapa itu, terlihat jelas raut wajahnya yang ‘agak’ ketakutan. Dan aku juga terheran dengan rokok yang kemudian disembunyikannya itu. Lalu aku lewat dan dengan santainya aku berujar “ketahuan yaa…”.

Percayalah kawan, bahwa merokok itu akan membuat derajatmu yang tadinya tinggi menjulang, jadi…(ah ga tega ngomongnya..). Tapi serius…se’intelek’ apapun seseorang, ketika ketahuan bahwa dirinya itu merokok, maka ke’intelek’annya itu akan semakin diragukan. Intinya jadi aga ga percaya lagi kalau dia itu intelek. Haha…yang benar saja, kalau saja kau tahu para direktur-direktur perusahaan-perusahaan rokok itu, tak akan ada yang mau merokok. Kenapa? karena mereka tahu efek merokok. Rokok itu bikin candu. Dan mereka tak ingin menikmati akhir hidupnya hanya dengan rokok. Lalu, rokok itu juga membuat wibawa mereka jadi berkurang, seorang pemimpin gitu, mana mau moodnya disetir sama rokok. Itu ‘khusus’ direktur perusahaan rokok. Direktur lain? Ah, aku tak mau ambil pusing, pikirkan saja sendiri…

Oya, lanjut soal cerita kawanku tadi. Kawanku ini kebetulan lagi ngajuin diri jadi ketua BEM UI. Otomatis. Citra harus selalu dijaga. Bahkan sampai hal terkecil sekalipun. Tapi, apa mau dikata. Allah memang selalu menunjukkan hal-hal yang mungkin tak disangka-sangka. Mungkin intensitas rokoknya itu tak sesering anak fakultas lain. Secara,..fakultas kami kan anti asap rokok (asapnya saja diharamkan apalagi rokoknya). Maka dari itu, agak aneh aja ketika dengan lantangnya sang ketua BEM FIK sendiri, yang setiap tanggal 31 mei itu menyuarakan ‘anti tembakau’, ‘anti rokok’ atau sejenisnya lah…tapi dianya sendiri merokok…entahlah..aku tak tahu.

Dan, ketika isu ini beredar…CM2 alias tim suksesnya dia menganggap bahwa hal ini merupakan sebuah black campaign yang dilakukan oleh calon ketua yang lain. Sebenarnya aku tak mau ambil pusing akan hal ini, biarlah…biar saja kawanku ini malu akan perbuatannya sendiri…dan yang lebih anehnya lagi dia mengatakan ke semua orang bahwa terakhir kali dirinya merokok adalah saat SMA. Itu dia katakan di depan banyak orang, kemarin, saat exploring seluruh kandidat ketua BEM UI di FIK UI. Bahkan, untuk hal kecil macam itu saja dia berani berbohong…setelah disumpah dengan Al Quran gituuu…dan dia sendiri bersaksi bahwa apa yang dikatakannya adalah benar…Sebenarnya bisa saja, saat itu aku instruksi dan menjelaskan tentang apa yang kulihat minggu kemarin. Mana mungkin aku salah lihat. Jelas2 hari minggu kemarin dia sendiri menjawab sapaanku dan seketika itu langsung menyembunyikan rokoknya. Asap rokok itu juga masih ada tatkala aku melewatinya sambil naik sepeda…

Ah, mungkin orang itu lagi kumat wahamnya, atau saat itu dia sedang berhalusinasi. Entahlah aku tak tahu. Yang pasti, semua orang tahu bahwa dia telah menunjukkan keburukannya di hadapan banyak orang. Bahwa dia telah berbohong. Di hadapan Quran sekalipun.

Itulah kawan, sikap merokok itu memang didominasi oleh orang-orang yang egois. Karena dia hanya mementingkan asap rokok yang dinikmatinya tanpa memperdulikan bahaya asap rokok itu pada orang lain. Dia tahu tapi tak mampu. Tak mampu mengendalikan asap rokok itu kemana perginya…okelah kalau asap rokok itu dia bungkus kemudian dia buang. Kamipun tak masalah. Toh dia sendiri yang akan merasakan rusaknya paru2 atau organ2 lainnya dalam tubuhnya. Tapi, masalahanya asap rokok itu ga bisa dibungkus. Ya, solusinya jangan ngrokok. Apalagi di depan wanita dan anak kecil. Sudah berapa orang tuh yang dizholimi?

Percayalah kawan, sekali lagi percayalah…bahwa rokok itu akan membuat derajatmu turun dan rendah serendah-rendahnya. Kecuali bila orang itu bertobat dari rokok, dan berusaha untuk berhenti merokok.

Bagusan mana : ” Orang itu hanif sih, tapi sayang dia ngrokok..atau orang itu memang nakal, tapi masih untung dia nggak ngrokok…”

Kalau saya sih mendingan yang opsi kedua. Karena selamanya saya benci dengan asap rokok. Asap Mematikan!!





Kangen sama Sinicha

11 11 2009

PhotoFunia-1b4a4c2





memaknai arti perSahabatan

11 11 2009

PeRsahabatan itu ada masanya. Itu mungkin yang bisa kusimpulkan dari ceritaku dan sahabatku kemarin. Samita. Setelah beberapa minggu ini kami menyinggung soal persahabatan2 kami dengan sahabat2 sebelumnya, setelah kami sama-sama bercerita soal kedekatan2 kami dengan seseorang sebelumnya. Tapi semua itu kembali lagi pada satu hal bahwa : persahabaatn itu memang ada masanya. Meskipun, kami sama-sama percaya bahwa tetap ada yang namanya ‘friend forever’ atau persahabatan sejati. Bukan berarti friend forever itu adalah sahabat yang selalu ada di sampingnya, selalu ada dekat dalam hidupnya, selalu menemaninya…bukan itu…tapi, persahabatan yang diiringi dengan keterikatan hati. Bisa jadi persahabatan itu telah terpisah oleh jarak dan waktu, tapi, ketika keduanya bertemu selaksa ada yang mempersatukan hati-hati mereka. Mungkin ini jawaban atas doa-doa yang dilantunkan kepada Allah agar Allah menyatukan hati-hati ini…

Kemudian sejenak aku mengamati kedekatanku dengan beberapa kawanku sejak kecil sampai sekarang. Bahkan aku hafal betul bagaimana gerakgerik mereka, hal-hal yang disukainya, sikap-sikapnya..Tapi, dari kesemuanya itu tak semua yang bisa dikategorikan sahabat. Ada beberapa yang ketika bertemu kembali dengannya, serasa ada yang dipenuhi rasa rindu ketika bertemu, ada yang biasa-biasa dan sekadar melepas kenangan saja…beda-beda…

Lalu, Samita pun mengatakan padaku bahwa : Allah telah mengatur semuanya tikoo…Allah mendekatkanmu pada si ini, saat ini, agar kau bisa belajar dengannya, tentang hal-hal seperti ini…atau kau ditakdirkan dekat dengan si ini, yang sikapmu sama sekali bertolak belakang darinya, agar kau bisa belajar untuk begini…

Semua ada masanya…

Masa untuk berbagi, bahkan masa untuk menjauh…

Karna, mungkin, bisa jadi, ketika Allah telah menjauhkanmu dengan si ini, Allah telah mencukupkan kalian untk belajar tentang ini, dari si ini…

Sahabat, bagaimanapun…kehadiranmu selalu kubutuhkan, siapapun engkau yang mengingatkanku padaNya…





perangko tikoo dan devika

11 11 2009

PhotoFunia-1b70421