Ramadhan ini, semoga menjadi ramadhan terakhirku, menduduki bangku es satu. Aku tahu, profesiku nanti bukanlah profesi yang bagi sebagian orang, adalah profesi yang menggembirakan. Profesi ini banyak pengorbanan dan cacian jika kita tak menikmatinya dengan benar. Apalah arti profesi jika kita tak bisa mensyukuri dan melakukan sesuatu yang terbaik bagi profesi kita dan masyarakat sekitar kita. Hanya jadi sampah-sampah yang menodai profesi kita nantinya. Ketika sebagian orang meremehkan sebuah profesi tertentu (dalam artian profesi yang positif, bukan profesi2 negatif yang sekarang tak malu untuk diakui) maka apalah arti profesi yang dimilikinya. Siapa bilang hanya petugas medis yang bisa bikin malpraktek? Kau pikir aparatur pemerintahan itu tak bisa bikin malpraktek? aaahh…sering lagi mereka mah…hanya saja ulahnya ga keliatan, sekalinya keliatan bisa ditutupi dengan sebuah senjata yang namanya ‘uang’. Okelah, Baiklah, aku hanya ingin menyampaikan bahwa hendaknya kita menghargai arti sebuah profesi, apapun itu, selagi profesi itu menhasilkan uang yang halal, selagi profesi itu bermanfaat bagi masyarakat, selagi profesi itu dibutuhkan, maka tak ada kata buruk bagi sebuah profesi.
Mungkin, abad ini, atau millenium ini belumlah mengakui profesi kami sebagai profesi yang berarti. Tapi biarlah, biarlah Allah sajalah yang menilai arti penting profesi kita. Terkadang aku ditanya oleh seseorang ” Dik, kenapa ga ambil profesi B atau D saja biar bisa buka praktek sendiri?” Nah lho, itu artinya profesiku belum bisa membuka praktek mandiri, lalu apa artinya profesiku itu ‘ada’ kalo memang tidak dibutuhkan???Apakah membuka praktek mandiri bagi petugas medis itu adalah satu2nya peluang besar untuk mendapatkan banyak uang? Ah, kurasa sempit sekali jika kita hanya kita memikirkan uang, penting memang memikirkan uang, tapi apakah itu tujuan utama kita menjalani profesi kita?? Allah, aku tak mengerti kenapa sekarang uang dijadikan sebagai tuhan??kenapa uang dijadikan tujuan..???
Kemudian aku merunut-runut lagi sebab musabab kenapa profesiku itu hadir??dan apa jadinya kalo profesi kita tak ada?
Dan apakah petugas medis yang lain itu siap jika profesi kita itu tak ada??apa jadinya rumah sakit kalo tak ada perawatnya?Apakah mungkin ditangani oleh petugas medis lain yang hanya bertugas untuk ‘mengobati’ orang2 sakit dan bukan ‘merawat’ orang-orang sakit?
Kemudian aku berfikir kembali, sejauh mana orang2 yang menjalani profesiku ini bertindak sesuai dengan kode etik yang ditetapkan??Apakah perawat2 jaman sekarang telah berhati-hati dan waspada terhadap kondisi pasien??Dan apakah mereka sudah bangga dengan profesinya sehingga mereka berupaya melakukan yang terbaik bagi profesinya??Allah…apapun nanti yang terjadi terhadap profesi ini, insya Allah aku ingin melakukan yang terbaik…karena jalan ini telah Kau pilihkan untukku, menjadi bagian dari orang2 yang bisa menolong orang lain melalui profesinya…dan aku akan tetap oPtimiS bahwa inilah yang terbaik, bantu aku ya Rabb….